Pali - ReaksiBerita.com - Menjelang dua tahun kepemimpinan Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Asgianto, S.T., berbagai capaian program prioritas pemerintah daerah mulai dipaparkan. Sebanyak 13 program prioritas yang menjadi bagian dari visi dan misi kepala daerah disebut telah diimplementasikan secara bertahap melalui sejumlah program dan kegiatan perangkat daerah.
Dalam pemaparan dokumen terkait 13 program prioritas tersebut, Kepala Bappeda kabupaten Pali,Rina Anggraini, mengungkap sejumlah capaian di sektor kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, infrastruktur, hingga perlindungan sosial.
Pada sektor kesehatan melalui program PALI Sehat Bersama, tercatat kepesertaan aktif BPJS Kesehatan mencapai 92,21 persen. Sebanyak 83.156 jiwa mendapatkan pembayaran iuran dari pemerintah daerah. Program ini juga didukung peningkatan akses pelayanan kesehatan, pembangunan puskesmas baru, serta peningkatan status RSUD Talang Ubi dari tipe D menjadi tipe C.
Sementara di bidang pendidikan melalui program PALI Terdidik, pemerintah daerah menyebut telah memberikan beasiswa kepada 505 mahasiswa kurang mampu dan berprestasi. Selain itu, seragam sekolah telah disediakan bagi 3.481 siswa SD, serta Program Kejar Paket C yang diikuti 2.301 peserta.
Di bidang keagamaan, program PALI Bebas Buta Baca Alquran dilaksanakan melalui pemberian honor kepada 318 marbot dan guru TPA di Kecamatan Talang Ubi. Adapun pembiayaan untuk 65 desa disebut telah dianggarkan melalui Dana Desa.
Untuk menjaga kerukunan masyarakat, program PALI Rukun Bersama dijalankan melalui kegiatan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Pemerintah daerah menyebut capaian program ini ditandai dengan kondisi zero conflict dalam kehidupan masyarakat.
Berlanjut ke sektor ekonomi kerakyatan, program Kreatif Bersama PALI telah diakomodasi melalui kegiatan peningkatan keterampilan bagi 30 pelaku usaha kecil dan menengah.
Sedangkan program Satu Desa Satu Produk diarahkan untuk mengembangkan produk unggulan desa, meningkatkan keterampilan masyarakat, serta mendukung peningkatan kualitas produk usaha. Hingga saat ini, sebanyak 36 desa telah memiliki produk unggulan dari target 71 desa dan kelurahan.
Namun, tidak seluruh program berjalan sesuai rencana. Salah satunya PALI Berkarya Mandiri, khususnya pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK), yang belum terealisasi pada 2026 dan baru direncanakan dilaksanakan pada 2027.
Dalam dokumen tersebut dijelaskan, penundaan pembangunan BLK disebabkan penyesuaian kemampuan fiskal daerah akibat pengurangan atau penyesuaian dana transfer dari pemerintah pusat. Kondisi tersebut membuat sejumlah rencana pembangunan harus dijadwalkan kembali.
Di sektor pertanian dan perikanan, program Satu Desa Satu Penyuluh telah didukung 53 penyuluh pertanian dan 8 penyuluh perikanan. Meski demikian, dari target 65 desa, masih terdapat beberapa desa yang belum memiliki tenaga penyuluh. Pemenuhannya akan dilakukan secara bertahap pada tahun berikutnya.
Untuk program Desa Maju dan Modern, capaian kondisi jalan mantap tercatat sebesar 69,66 persen dari target 69,98 persen. Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan penanganan terhadap 21 titik blank spot internet guna meningkatkan konektivitas digital.
Di bidang penerangan, program PALI Terang Bahagia telah diakomodasi melalui pembangunan 323 unit lampu tenaga surya atau solar cell.
Sementara program Desa Maju dan Sehat dilaksanakan melalui pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di desa. Hasilnya, persentase rumah tangga dengan akses air minum layak mencapai 95,72 persen, melampaui target yang ditetapkan sebesar 84,50 persen.
Adapun program PALI Bersinergi diwujudkan melalui sinkronisasi dan sinergi program pembangunan dengan pemerintah pusat serta pemerintah provinsi.
Terakhir, program Kerja Keras Bebas Cemas dijalankan melalui perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja rentan. Pemerintah daerah menyebut anggaran telah dialokasikan untuk 35.792 pekerja dari target sebanyak 77.231 pekerja.
Capaian Perlu Diukur dari Manfaat yang Dirasakan Masyarakat
Meski 13 program prioritas tersebut telah menunjukkan sejumlah capaian, realisasi di lapangan tetap menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Sebab, keberhasilan program pemerintah tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan, pembangunan fisik, maupun besaran anggaran yang dialokasikan, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Beberapa pekerjaan rumah masih terlihat, mulai dari belum meratanya tenaga penyuluh di seluruh desa, cakupan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan yang belum mencapai target, hingga pembangunan BLK yang harus ditunda sampai 2027.
Menjelang dua tahun kepemimpinan Asgianto, publik tentu berharap seluruh program prioritas tersebut dapat terus dikawal secara konsisten, sehingga janji pembangunan tidak berhenti pada dokumen perencanaan dan laporan capaian, melainkan benar-benar terwujud dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten PALI. ( J )
