Senin, 12 Oktober 2026, Oktober 12, 2026 WIB
Last Updated 2026-10-12T13:49:47Z

‎Kualitas Udara PALI Masuk Kategori Berbahaya, Delapan Titik Hotspot Terdeteksi


Pali – ReaksiBerita.com – Kualitas udara di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, dilaporkan masuk kategori berbahaya di tengah kondisi cuaca ekstrem dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi perhatian.

‎

‎Meski jumlah titik panas atau hotspot di wilayah PALI disebut mengalami penurunan, dampak asap dari kebakaran di kabupaten lain diduga turut memengaruhi kondisi udara. Pergerakan asap tersebut bergantung pada arah angin yang membawa polutan ke wilayah terdampak.

‎

‎Berdasarkan keterangan yang disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah kabupaten PALI, Ahmad Hidayat pada Senin (12/10/2026), terdeteksi delapan titik hotspot di wilayah PALI. Titik-titik tersebut tersebar di Kecamatan Talang Ubi dan Kecamatan Penukal, dengan kebakaran dilaporkan terjadi di lahan mineral atau perkebunan milik masyarakat.

‎

‎“Kalau dilihat dari titik hotspot PALI sudah menurun. Akan tetapi, ada kabupaten lain yang titik hotspot-nya sangat tinggi sehingga berdampak ke PALI. Kondisi ini bergantung pada arah angin,” ungkap Dayat sapaan akrab nya

‎

‎Data Karhutla Capai 254 Kejadian

‎

‎Berdasarkan dokumen rekapitulasi kejadian karhutla Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten PALI, periode Mei hingga Oktober 2026, tercatat sebanyak 254 kejadian karhutla dengan total luasan terdampak sekitar 510,15 hektare.

‎

‎Kecamatan Talang Ubi menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 124 kejadian dengan luas terdampak 228,65 hektare. Selanjutnya, Kecamatan Penukal Utara mencatat 46 kejadian dengan luas 109,75 hektare, disusul Kecamatan Penukal sebanyak 37 kejadian dengan luas 89,75 hektare.

‎

‎Sementara itu, Kecamatan Abab mencatat 32 kejadian dengan luas 58 hektare, sedangkan Kecamatan Tanah Abang mencatat 17 kejadian dengan luas 24 hektare.

‎

‎Dokumen tersebut juga mencatat total sebaran hotspot sebanyak 1.219 titik. Data ini merupakan rekapitulasi periode Mei–Oktober 2026 dengan pembaruan terakhir pada 8 Oktober 2026.

‎

‎Satgas Berupaya, Kesadaran Masyarakat Jadi Kunci

‎

‎Di tengah upaya penanganan karhutla, tim satuan tugas (Satgas) disebut telah berupaya maksimal untuk mengendalikan kebakaran. Namun, potensi munculnya titik api masih menjadi perhatian, terutama akibat aktivitas manusia.

‎

‎Pembakaran lahan atau kebun, pembakaran sampah, hingga kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan dinilai dapat memicu kebakaran, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

‎

‎Karena itu, masyarakat diimbau meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan, terlebih saat kondisi cuaca sangat kering dan ekstrem. Aktivitas yang berpotensi memicu api perlu dihentikan agar kebakaran tidak semakin meluas dan memperburuk kualitas udara.

‎

‎“Semoga masyarakat memiliki kepedulian dalam kondisi sekarang, ketika cuaca sangat ekstrem dan kering. Selagi masyarakat masih membakar, kondisi cuaca akan tetap memburuk. Ayo kita jaga alam, alam jaga kita,” tegasnya.

‎

‎Perlu Kewaspadaan Bersama

‎

‎Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman oleh petugas. Pencegahan sejak dini, kepatuhan masyarakat, serta koordinasi lintas wilayah menjadi bagian penting untuk menekan munculnya titik api dan mengurangi dampak asap.

‎

‎Di tengah kualitas udara yang dilaporkan masuk kategori berbahaya, masyarakat diharapkan menghindari aktivitas pembakaran terbuka dan mengikuti imbauan resmi dari instansi terkait demi melindungi kesehatan serta menjaga lingkungan di Kabupaten PALI. ( J )