Pali - ReaksiBerita.com - Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) kembali diguncang insiden kebocoran pipa gas milik PT Pertamina (Persero) yang berujung kebakaran. Peristiwa ini bukan yang pertama. Aroma gas, kobaran api, dan kepanikan warga seolah menjadi “ritual berulang” di daerah penghasil energi tersebut.
Ketua DPRD PALI, Ubaidillah, menyatakan penyesalannya dan melontarkan kritik keras terhadap perusahaan pelat merah itu. Menurutnya, ada dua kemungkinan penyebab insiden dan keduanya tetap menempatkan Pertamina sebagai pihak yang harus bertanggung jawab.
Korosi atau Sabotase, Pertamina Tak Bisa Lepas Tangan
Pertama, jika kebocoran terjadi akibat korosi pipa, maka itu jelas bentuk kelalaian dalam perawatan. Infrastruktur migas bukan barang baru. Jika pipa sudah tua dan rapuh, mengapa tidak diganti? Jika sudah terindikasi berkarat, mengapa tidak segera diperbaiki? Perawatan line pipa adalah kewajiban mutlak, bukan pilihan.
Kedua, jika kebakaran dipicu sabotase, Ubaidillah menilai hal itu tetap menjadi tamparan keras bagi sistem pengamanan Pertamina. Bagaimana mungkin objek vital nasional bisa begitu mudah disusupi? Di mana pengawasan? Di mana penjagaan di setiap jalur pipa?
“Apapun penyebabnya, Pertamina harus bertanggung jawab,” tegasnya pada 26 februari 2026
Miskin Komunikasi, Kaya Masalah?
Tak hanya soal teknis, Ubaidillah juga menyoroti buruknya komunikasi perusahaan kepada publik. Menurutnya, respons atas kejadian seperti ini harus cepat, transparan, dan terarah. Jangan sampai masyarakat menerima informasi simpang siur yang justru menimbulkan keresahan.
“Seharusnya ada kejelasan arah perintah dan publikasi. Jangan sampai warga bingung, takut, tapi tidak tahu harus berbuat apa,” ujarnya.
Kritik ini bukan tanpa alasan. Sebagai BUMN energi terbesar di negeri ini, Pertamina seharusnya menjadi contoh dalam manajemen risiko dan keterbukaan informasi. Namun yang terjadi di PALI justru memperlihatkan pola insiden yang berulang.
Perusahaan Plat Merah, Tapi Masalah Terus Berulang
Pertanyaan publik pun mengemuka: mengapa insiden serupa kerap terjadi, khususnya di Kabupaten PALI? Apakah ini cerminan lemahnya pengawasan? Atau ada persoalan sistemik yang tak kunjung dibenahi?
Sebagai perusahaan milik negara, Pertamina bukan hanya mengelola sumber daya, tetapi juga memikul amanah keselamatan masyarakat. Jika kebocoran dan kebakaran terus terjadi, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar aset perusahaan melainkan nyawa dan rasa aman warga.
Kini masyarakat PALI menunggu, bukan sekadar klarifikasi, tetapi tindakan nyata. Evaluasi total, transparansi investigasi, dan jaminan keamanan bukan lagi tuntutan berlebihan melainkan keharusan.
Sebab jika kejadian seperti ini terus berulang, wajar bila publik bertanya: sampai kapan PALI harus hidup berdampingan dengan ancaman dari pipa yang seharusnya membawa kesejahteraan?. ( Red )
